top of page

PLTS vs PLTU - Mana yang lebih Baik?

Batubara adalah sumber energi pembangkit listrik yang masih digunakan hingga saat ini. Walaupun mendapatkan tentangan dari berbagai pihak namun penggunaannya tidak berhenti. 


Pada saat yang sama, energi terbarukan mulai disuarakan demi menghasilkan energi bersih di masa depan. Bukan hanya itu saja, pasokan batu bara akan habis dalam beberapa tahun kedepan. 


Oleh sebab itu, butuh sumber energi alternatif agar mengisi kebutuhan energi listrik di masa depan. Salah satunya adalah memanfaatkan energi sinar matahari.


Penggunaan Batu Bara

Batu bara merupakan sumber pembangkit listrik yang digunakan selama beberapa tahun. Namun, penggunaannya menimbulkan berbagai masalah sebagai berikut.


a. Lingkungan

Batubara adalah bahan bakar fosil yang mengeluarkan gas rumah kaca yang berkontribusi pada perubahan iklim. SIstem PLTU dituntut untuk mengurangi dampak lingkungan dengan membebankan pajak polusi.


b. Sumber Daya Terbatas

Batubara merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Artinya, ketika ketersediaannya akan berkurang seiring dengan penggunaannya. Makin sering penggunaan batu bara, maka akan cepat habis pada waktunya.


c. Infrastruktur

Kebanyakan pembangkit listrik tenaga uap mengalami penurunan efisiensi karena termakan usia. Sagat dilematis ketika hendak berinvestasi pada batu bara namun ketersediaannya akan berkurang seiring berjalannya waktu.


Belum lagi masalah biaya awal yang besar jika ingin mendirikan pembangkit listrik tenaga uap. 


Ketidakpastian Pasar

Ketidakpastian pasar PLTU terjadi seiring dengan perubahan harga, kebijakan pajak polusi, hingga transisi menuju energi terbarukan. Secara tidak langsung akan berdampak pada keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang.

 

Penggunaan Tenaga Surya

Tenaga surya makin diminati karena bersumber dari sinar matahari. Sumber energi yang tidak akan habis. Namun, ada tantangan yang harus dihadapi ketika menerapkan sistem ini.


a. Intermiten

Pembangkit listrik tenaga surya sangat bergantung pada sinar matahari. Cuaca berawan, musim hujan, atau apapun yang menghalangi cahaya sinar matahari akan mengganggu suplai energi. Dengan demikian dapat mengganggu kinerja sistem tenaga surya. 


b. Biaya

Instalasi awal pembangkit listrik tenaga surya masih mahal. Ini dapat menghambat penerapan secara masif, belum dapat diimplementasikan secara massal. 


c. Integrasi Jaringan

Pembangkit listrik tenaga surya perlu terintegrasi ke dalam jaringan listrik, ini menjadi tantangan teknik dan kebijakan. Masalah ini mencakup stabilitas jaringan, daya, dan persyaratan koneksi jaringan yang dapat membebankan biaya instalasi. 


d. Penyimpanan Energi

Sistem tenaga surya menghasilkan listrik di siang hari saat permintaan rendah, dan kelebihan energi akan dikembalikan ke jaringan listrik. Menyimpan energi matahari merupakan sebuah tantangan karena membutuhkan baterai yang tentunya memakan biaya lebih. 


Kesimpulan

Jika diperhatikan, tenaga surya jauh lebih baik daripada batu bara. Hasil emisi dari tenaga surya berasal dari pembuatan panel surya, jumlahnya jauh lebih kecil daripada emisi batu bara. 


Dalam beberapa tahun terakhir, harga tenaga surya sudah sama terjangkanya dengan batubara sehingga menepis argune pembangkit listrik tenaga surya terlalu mahal untuk kebutuhan sumber energi komersial.


Sumber energi PLTS diperkirakan akan menggantikan peran PLTU untuk mengurangi emisi dan menawarkan energi bersih berkelanjutan bagi manusia di masa depan. 


5 tampilan0 komentar

Comments


bottom of page